Monday, April 7, 2008

NTT Bangkit” menuju “NTT baru” melalui pengembangan desa mandiri

Deraan krisis global terkait harga pangan dan BBM yang terjadi akhir-akhir ini seolah olah telah semakin meyakinkan kita akan penderitaan panjang warga miskin, khususnya di NTT.

Ketergantungan Pemda NTT dalam waktu yang relatif panjang terhadap pemerintah pusat baik dari segi pembiayaan dan penyediaan dana untuk APBD Tk Propinsi maupun Tk Kabupaten, ketergantungan dalam berbagai hal seperti BBM dab sembako--beras khususnya--semakin memosisikan NTT yang terlihat lemah dan kurang mandiri.


Menjadi pertanyaan reflektif untuk kita yang mencintai NTT, mau sampai kapan keadaan ini dibiarkan berlangsung ? Tidak adakah pendekar rakyat dari NTT seperti halnya Mahatma Gandhi yang berani memprakarsai gerakan swadesi memakai kain sari buatan sendiri ?

Atau seperti halnya Mohamad Yunus dengan Gremeen Bank yang mau mempelopori pinjaman tanpa agunan bagi para ibu pengusaha dari kalangan miskin dan bahkan untuk mantan narapidana ?


Kapan akan bangkit menyala semangat para pejabat dari kalangan putra daerah NTT sendiri yang malu melihat keadaan ini dan mempunyai “dream/impian” untuk menjadikan “another NTT” yang bebas dari korupsi dengan layanan publiknya berkelas dunia, yang menjadikan NTT sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata) kelas dunia setelah Bali dan Lombok ?


NTT yang menjadi terkenal karena bau aroma asli cendana ada dimana-mana, yang menjadi sentra produsen daging sapi dengan karkas yang tinggi kualitasnya, menjadi sentra pembuatan produk yang berbahan dasar kulit karena banyaknya produksi kulit sapi yang merupakan limbah dari pemotongan sapi untuk ekspor daging skala dunia ?


NTT yang terkenal karena mengekspor rumah kayu eksotik (knock down) karena melimpahnya produksi hutan kayu untuk bahan dasar pembuatan rumah,


NTT yang terkenal karena melimpahnya para akademia yang cerdas, bermoral dan berpikir global,


NTT yang terkenal karena religiositas yang ditunjukkan dengan keramahan warganya, rasa solidaritas yang tinggi, warga yang toleran, rendahnya angka kriminalitas dll.


NTT butuh pemimpin yang visioner,berani, dan jujur


Keterpurukan NTT tidak dapat dilepaskan dari kualitas para pemimpinnya baik di pemerintahan, lembaga keagamaan, lembaga keilmuan, lembaga non pemerintah, dan juga lembaga budaya dll.


Banyak pemimpin yang kehilangan huruf terakhirnya berupa N sehingga hanya menjadi PEMIMPI (tanpa N) yang hanya mampu bermimpi dan dengan pandainya menina- bobokkan warga miskin dengan janji perubahan yang sebenarnya tak pernah terjadi.


Kasihan rakyat kecil yang miskin yang hanya dipakai sebagai obyek dalam PEMILU maupun PILKADA, dimana mereka hanya dijadikan alat legitimasi kepemimpinan para pejabat atas nama kedaulatan rakyat. Suara rakyat adalah suara TUHAN sudah hilang dari kamus mereka ketika para pimpinan ini menjabat . Mereka akan berusaha dengan segala cara dan tipu muslihat untuk memperkaya diri dan sanak keluarganya dengan tanpa rasa malu dan rasa bersalah.

KKN masih dianggap sebagai cara termudah dan termurah untuk mewujudkan impiannya kaya raya tanpa susah payah meski memakan korban rakyat yang telah menjadikan dirinya sebagai pejabat. Kita dapat melihat dengan mata telanjang betapa para koruptor baik kelas kakap maupun teri di NTT masih terus berkeliaran dengan segala jurus ampuhnya untuk terus mengelabuhi rakyat seolah olah rakyat NTT tidak bisa melihat segala kebobrokan moralnya.


Sudah saatnya untuk bertobat dan berbalik kembali memihak rakyat jika para pemimpin NTT ingin melihat perubahan rakyatnya menuju sejahtera, dan apakah ceritera tentang Lazarus yang memakan remah-remah roti yang terjatuh dari meja si kaya masih belum cukup untuk menyadarkan arti penting “berbagi” dengan sesama terutama yang miskin dan menderita ? Apakah kematian para balita karena busung lapar masih juga belum mampu menyentuh nurani para pejabat yang dimahkotai pangkat dan gelar untuk memperbaiki dan bahkan kalau perlu secara radikal merubah pendekatan pembangunan di NTT ? Apalah artinya para pejabat memiliki seluruh kekayaan dan kekuasaan dunia namun kehilangan kasih kepada sesama ? Apakah ajaran “dengan memberi akan mendapat” dirasa tidak relevan lagi saat ini ? Atau dibutuhkan tanda-tanda jaman seperti apalagi yang mampu menyadarkan para pejabat dan pemimpin NTT untuk mulai segera berubah dan berbenah sebelum krisis sosial benar-benar melanda kita ?


Saatnya para pemilih untuk secara cerdas dan bertanggung jawab memilih pemimpin yang mampu menjadi teladan dan sekaligus pendorong untuk perubahan di NTT.


Dibutuhkan pemimpin NTT yang visioner, mampu memnadang jauh kedepan dan tidak terhalang dengan segala kendala dan hambatan yang ada sekarang ini, pemimpin yang mempunyai mata, telinga, lidah , tangan , mulut dan kepala yang terberkati.


NTT membutuhkan pemimpin bak seekor elang yang berani terbang sendirian dan memiliki sepasang mata pemimpin yang tajam yang mampu mengendus dan kemudian memangsa ‘kawanan serigala berbulu domba yang senang ber KKN ria’ sehingga dana untuk kaum miskin tidak lagi disunat, digelapkan ataupun dirampok oleh mereka dan dana tersebut akhirnya benar-benar mampu membuat rakyat miskin berdaya karena diberdayakan bukan karena disuapi dengan berbagai subsidi. Pemimpin yang mampu menghasilkan kebijakan/ policy yang benar-benar memihak rakyat kecil untuk mewujudkan sila kelima Pancasila yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


NTT membutuhkan telinga pemimpin yang mau dan mampu mendengarkan (bukan hanya sekedar pura-pura mendengar) rintihan dan jeritan kaum papa warga NTT yang ingin keluar dari kubangan kemiskinan.


NTT membutuhkan lidah pemimpin yang menurut Andrias Harefa ( seorang penulis , motivator dan pendiri/inisiator www.pembelajar.com ) mampu mengendalikan lidah-nya. Pemimpin yang melek mata hati dan mata budinya. Pemimpin yang tidak asal bicara, namun tak selalu diam membatu.

NTT membutuhkan tipe pemimpin seperti Soekarno yang dengan kemampuan kata-katanya mampu membakar dan menggelorakan semangat untuk merdeka . Bung Karno sebagai penyambung lidah rakyat mencoba memotivasi agar rakyat Indonesia berjuang keluar dari belenggu penjajahan. Kapan akan tampil seorang muda NTT mampu menyuarakan suara warga miskin di NTT yang telah jenuh dengan janji-janji pemimpin NTT terdahulu dan menyuarakan perasaan dan pesoalan mereka untuk memeperoleh solusi menuju sejahtera dan keluar dari belenggu kemiskinan yang telah dalam waktu lama menderanya ? Kapan NTT menjadi akronim dari Nikmat Tiada Tara bagi seluruh warganya tanpa memandang SARA ?


NTT membutuhkan ‘tangan pemimpin’ yang mampu merengkuh seluruh warga miskin NTT kedalam dekapan kasih NYA melalui kegiatan dan program nyata yang terukur dan terencana (SMART) yang mampu mengubah kehidupan mereka yang miskin papa menjadi kehidupan yang penuh cinta dan berkelimpahan. Bukankah telah dijanjikan barang siapa yang hidup dijalan TUHAN akan hidup berkelimpahan. Artinya dibutuhkan pemimpin yang mampu menjadi ‘kepanjangan tangan TUHAN’, yang hidupnya penuh dengan kesalehan, mempunyai religiositas yang tinggi yang dapat terlihat dari hidup kesehariannya dan perilaku keluarganya.


NTT tidak membutuhkan ‘tangan pemimpin yang kotor dan penuh daki KKN’.

Yang dibutuhkan berupa pemimpin yang mampu meneladani Bunda Teresa atau Romo Mangun maupun teladan lainnya yang langsung terjun mengangkat para miskin papa dari lembah derita tanpa banyak pidato dan acara seremonial.

NTT membutuhkan tangan pemimpin yang kekar namun sekaligus lembut karena banyaknya kasus korupsi yang semakin memiskinkan NTT namun pelakunya selalu bebas berkeliaran dan menghirup darah kaum miskin seperti halnya perilaku para drakula.


NTT membutuhkan ‘kepala pemimpin’ yang cerdas dan melandaskan pada cara berpikir yang logis/nalar, yang mau belajar, mau berubah dan mempunyai wawasan bisnis yang kuat sehingga menjadikan NTT mampu link dengan para pembisnis dari luar NTT.


Dan semua itu harus dimulai dari membangun kemampuan desa-desa NTT menuju desa mandiri baik mandiri energi, pangan, ekonomi maupun kesehatan dan lainnya.


Pemimpin NTT harus berani menanamkan investasi pada infrastruktur dasar yang mendukung keterkaitan desa-desa dengan pusat-pusat bisnis, seperti misal mau membangun cold storage di berbagai daerah untuk menampung hasil sayuran, buah-buahan maupun ikan sehingga tidak cepat busuk.


Para pemimpin NTT harus mampu menggairahkan kegiatan ekonomi rakyat melalui penumbuhan jiwa wirausaha dikalangan rakyat sehingga dapat menangkap dan memanfaatkan peluang kredit tanpa agunan berupa Kredit Untuk Rakyat (KUR) yang telah digulirkan pemerintah untuk membantu para petani dan pelaku UKM.


Para pemimpin budaya NTT harus meniru apa yang telah dilakukan salah satu keluarga di Bajawa dalam rangka mengurangi beban biaya adat namun adat tetap lestari tanpa harus membebani


Para pemimpin yang mampu mendorong warga untuk menerapkan pola hidup hemat, berinvestasi dan mendorong rakyat NTT untuk berprofesi sebagai wirausaha serta mengembangkan pusat-pusat bisnis akan sangat membantu dalam mewujudkan NTT bangkit menuju mandiri.


Menyitir sebuah iklan, kalau bisa hemat, ngapain boros ? Jadi sudah selayaknya kita warga NTT melakukan gerakan penghematan dalam segala hal, terutama dimulai dari para pemimpinnya, termasuk didalamnya menghentikan segala bentuk praktek KKN, dan sebangsanya.


Selamat menyongsong NTT baru.


YBT Suryo Kusumo, tony.suryokusumo@gmail.com



No comments: